News

Post updates on the status of your app

Rian Johnson, Menulis Naskah “Star Wars: The Last Jedi” Dari MacBook Antisosial

Penulis naskah sekaligus sutradara film Star Wars  The Last Jedi, Rian Johnson mempercayakan MacBook Air besutan Apple sebagai perangkat sekaligus satu-satunya teman saat ia menulis naskah. Seluruh naskah film tersebut ditulis dari laptop Apple tersebut.

MacBook Air milik ini Rian bisa disebut laptop yang anti-sosial dan introvert karena ia tidak berkomunikasi dengan sesama laptop atau gadget lainnya di internet. Dan menurut Rian, langkah ini dilakukan agar naskah yang sudah susah payah dibuatnya tidak dicuri orang. Karena  belakangan ini, pencurian data rentan terjadi ketika perangkat terhubung oleh internet.

MacBook Air milik Ryan sekaligus menjadi “brankas” tempatnya menyembunyikan skenario Film fenomenal tersebut. Bahkan Rian berkisah bahwa proses penulisan naskah film tersebut berlangsung sangat panjang. Dan bahkan saat menulis, ia menerapkan “air-grapped”, julukan sebuah komputer yang tidak pernah terhubung dengan internet, untuk MacBook-nya.

“Saya selalu membawa MacBook Air saya kemanapun saya pergi dan hanya mengeluarkannya ketika akan mengerjakan naskah. Saya menyimpannya di dalam Studio Pinewood,” ujar Rian.

Bahkan perilaku Rian yang overprotektif pada perangkat miliknya sempat membuat para produser cemas. Sebab jika membawa laptop kemanapun, risiko Rian meninggalkan laptopnya di tempat lain semakin besar.

“Saya rasa para produser takut kalau nanti saya meninggalkan MacBook Air saya di kedai kopi,” tambah Rian. Bahkan setelah penulisan naskah selesai, Rian mengaku masih ingin menggunakan perangkat MacBook Air miliknya untuk menulis naskah film lain

5 Gadget Terbaik Dan Paling Revolusioner di CES 2018

1. The Wall 4K TV

Deretan televisi cerdas terbaik yang dipamerkan di CES 2018 salah satunya adalah The Wall 4K TV besutan Samsung, yang merupakan salah satu televisi paling besar yang pernah ada. Televisi cerdas ini diklaim sebagai TV modular pertama di dunia karena layarnya bisa dirangkai untuk jadi layar sebesar apa yang Anda inginkan.

Penggunaan teknologi Micro LED juga membuat kualitas televisi ini jadi lebih baik: kecerahan, kontras, serta warna yang jauh lebih baik dari televisi standar.

2. LG 65-inch Rollable OLED TV

Bersaing dengan Samsung tentu LG, dengan produknya LG 65-inch rollable OLED TV yang mengusung desain portabel dan mudah disimpan. Sehingga, televisi ini adalah televisi masa depan yang bisa digulung dan terlihat seperti teknologi di film fiksi ilmiah.

3. DELL XPS 13

Keluaran laptop terbaik di CES 2018 tentu Dell XPS 13, yang merupakan laptop 13 inci dengan Windows 10 yang mengusung desain paling tipis, paling ringan, dan paling elegan. Laptop ini mengusung Intel Core 15 dan i7 Generasi ke 8. Tak lupa berbagai teknologi baru di laptop seperti USB-C dan fingerprint sensor di tombol powernya.

4. Sony Aibo

Ada beberapa robot yang mencuri perhatian di CES 2018 kali ini. Dimulai dari Sony Aibo yang berbentuk anjing imut, yang memiliki mata dari panel OLED yang punya ekspresi lebih baik, kontrol suara, pendeteksi gerakan, serta kecerdasan buatan yang langsung terkoneksi ke cloud.

5. FlodiMate Laundry Floding Robot

Diklaim sebagai robot meski tak berbentuk robot, namun ‘robot’ ini memiliki fungsi yang sangat kita butuhkan yakni melipat pakaian. FoldiMate laundry folding robot membuat kita sekedar memasukkan pakaian yang belum terlipat ke dalamnya dan ia akan melipat dan meletakkannya dengan rapi.

Ini Strategi Dirjen Pajak Setor Rp 1.423,9 Triliun ke APBN 2018

Penerimaan pajak sepanjang 2017 tercatat mencapai Rp 1.151,10 triliun atau 89,68 persen dari total target penerimaan pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 yang sebesar Rp 1.283,6 triliun.

Tahun depan, target penerimaan pajak dikerek menjadi Rp Rp 1.423,9 triliun atau tumbuh 9,3 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2017.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan  Robert Pakpahan mengaku tidak mempunyai cara khusus dalam mengejar target pajak di tahun 2018. Dirinya mengaku masih akan melakukan cara yang sama seperti di tahun 2017.

“Kita lakukan cara lama seperti pelayanan perpajakan, memberikan kemudahan membayar dan memudahkan penyampaian laporan pajak seperti biasanya. Kami juga tetap melakukan penegakan hukum, semuanya itu rutin dan tetap akan dilakikan sesuai mandat,” kata Robert saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/1).

Kendati masih akan melakukan upaya yang sama seperti tahun sebelumnya, Robert berjanji akan tetap bekerja secara maksimal. Pihaknya akan meningkatkan kualitas setiap lini perpajakan.

“Di luar kegiatan rutin, reformasi perpajakan dengan menampung banyak inisiatif program dari semua pihak. Untuk meningkatkan kualitas perpajakan maka sudah pernah saya sampaikan, pilarnya ada 5 seperti perbaikan SDM, perbaikan organisasi dari kantor pajak pusat dan kanwil, perbaikan kinerja, perbaikan bisnis, perbaikan teknologi informasi dan perbaikan aturan,” jelas dia.

Perihal masalah teknologi, lanjut Robet, pihaknya akan meningkatkan kualitas sistem yang digunakan saat ini. Harapannya tentu akan mendorong peningkatan pelayanan kepada wajib pajak (WP) dan data-data perpajakan.

“Jadi dua langkah yang rutin akan kita kerjakan sebagaimana mestinya dan pilar lainnya adalah reformasi perpajakan seperti kerjasama dengan direktorat jenderal bea dan cukai (DJBC),” tandasnya.

Sumber: jawapos.com

Hacker makin ganas ditahun 2018, Badan Siber siap perkuat benteng

Serangan siber diprediksi bakal makin gencar di tahun ini seiring dengan memanasnya situasi politik jelang Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019.

Pakar Keamanan Siber Pratama Persadha mengingatkan bahwa situasi politik yang memanas dapat memicu hacker saling retas antarkubu. Belum lagi, ancaman ransomware dari luar seperti WannaCry yang mungkin saja kembali terjadi di 2018.

Data Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) mencatat, dari Januari hingga November 2017 tercatat sebanyak 205.502.159 serangan siber terjadi di Indonesia. Angka ini melonjak dari tahun 2016 yang tercatat 135.672.948 serangan siber.

“2018 merupakan tahun berat untuk melawan ancaman siber dalam berbagai bentuk. Serangan siber di 2018 bakal lebih bervariasi, belum lagi maraknya hate speech karena kontestasi Pilkada di seluruh Tanah Air,” ujar Pratama saat dihubungi LIPUTAN6.com

Untuk itu, dia menilai langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) meningkatkan status Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sudah tepat. “BSSN dengan segala wewenang dan fungsinya bisa menjalankan tugas untuk mengawal dan mengamankan wilayah siber Tanah Air,” imbuhnya

Seperti diketahui, pada Rabu, 3 Januari 2018, Presiden Jokowi meningkatkan status BSSN yang semula bertanggung jawab pada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) menjadi langsung di bawah Presiden.

Mayor Jenderal Djoko Setiadi yang selama ini menjabat Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), resmi mengepalai BSSN–dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Djoko menjelaskan, fokus kerja BSSN di tahun politik yang dimulai dari 2018, yakni mengondisikan agar suasana di area siber betul-betul tenang dan aman. Dia berpesan pada hacker dan penyebar hoax agar menghentikan aksi mereka.

“Kami akan ingatkan kepada pelaku hoax untuk berhenti, tidak dilanjutkan. Kalau memang nanti semakin menjadi-jadi, nanti ada aturan yang akan ditentukan,” tuturnya.

Lalu, apa langkah BSSN untuk mengantisipasi ancaman siber tersebut?

Djoko menyatakan, BSSN akan bersinergi dengan beberapa instansi yang juga memiliki satuan siber, antara lain adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN).

“Apabila sinergitas ini maksimal, saya yakin kemampuan kami akan hebat. Nanti koordinasi di BSSN. Kami akan berdayakan semua semaksimal mungkin. Ibarat sapu lidi kalau digabungkan akan sangat kuat,” katanya.

“Lembaga Sandi Negara sekitar satu tahun terakhir sudah bekerja di cyber space. Jadi ini bukan merupakan hal baru. Kami akan meningkatkan kemampuan sehingga betul-betul bisa menjangkau nasional,” kata Djoko.

BSSN merupakan lembaga teknis nonkementerian yang dibentuk pada 2017 berdasarkan Peraturan Presiden No 53 Tahun 2017, ditandatangani 19 Mei 2017. Sebelumnya, lembaga ini bertanggung jawab pada Menko Polhukam.

Namun untuk mengantisipasi perkembangan dunia siber, pemerintah melakukan perubahan untuk menguatkan peran dan fungsi BSSN. Perubahan itu ada dalam Perpres No 133/2017, sehingga kini posisi BSSN berada langsung di bawah Presiden atau setingkat kementerian.

Presiden Jokowi menuturkan BSSN merupakan badan yang sangat penting dan diperlukan negara, terutama untuk mengantisipasi perkembangan dunia siber yang pertumbuhannya sangat cepat.

“Karena itu, diperlukan perubahan dalam rangka penguatan peran dan fungsi BSSN ke depannya,” kata Jokowi.

Lembaga ini bertugas mendeteksi dan mencegah kejahatan siber dengan menjaga keamanan secara efektif dan efisien. Nantinya, BSSN akan memanfaatkan, mengembangkan, dan mengonsolidasikan semua unsur yang terkait dengan keamanan siber.

Tugas tersebut juga diarahkan pada pembangunan lingkungan (ekosistem) siber Indonesia yang tahan dan aman. BSSN juga menjadi penyelenggara dan pembina tunggal persandian negara dalam menjamin keamanan informasi berklarifikasi milik pemerintah atau negara.

Karena itu, BSSN bukan merupakan lembaga baru yang dibentuk pemerintah, melainkan revitalisasi Lembaga Sandi Negara dengan tambahan Direktorat Keamanan Informasi, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Melalui terbentuknya lembaga ini, BSSN akan melaksanakan seluruh tugas dan fungsi di bidang persandian termasuk seluruh tugas dan fungsi di bidang keamanan informasi, pengamanan jaringan telekomunikasi berbasis protokol internet, dan keamanan jaringan termasuk infrastruktur telekomunikasi.

Sementara Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Noor Iza menuturkan, fungsi Direktorat Keamanan Informasi yang dialihkan atau dilebur ke BSSN akan disusun berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi(PANRB).

“Sesuai dengan amanat Perpres 53/2017 tim ID-SIRTII dan ‘fungsi’ Direktorat Keamanan Informasi dialihkan atau dilebur ke BSSN. Struktur organisasinya akan disusun berkoordinasi dengan Kementerian PANRB dan ditetapkan oleh Kepala BSSN,” pungkasnya.

Sosok yang pas

Pakar Keamanan Siber Pratama Persadha menilai Mayjen Djoko Setiadi merupakan sosok yang pas untuk pimpin BSSSN. Alasannya, ia memiliki pengalaman lama sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara yang membuatnya tak asing membangun lembaga negara yang bertanggung jawab soal wilayah siber Tanah Air.

“Sekarang tinggal bagaimana memaksimalkan sumber daya manusia yang ada, baik Lembaga Sandi Negara maupun Dirjen Aptika Kominfo mempunyai SDM yang mumpuni. Tidak perlu waktu lama untuk langsung melakukan aksi segera,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, BSSN diharapkan mampu mengoordinasikan lembaga negara lain yang lebih dulu membangun sumber daya manusia dan prasarana terkait keamanan siber. Dengan demikian, tak ada tumpang tindih.

“Dengan berjalannya BSSN, kini Indonesia sudah lengkap semua perangkat yang bertanggung jawab di wilayah siber. Kita tunggu semoga semua bisa berjalan baik, sekaligus menjadi pengayom masyarakat di wilayah siber,” pungkasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, keamanan siber menjadi agenda utama sejumlah negara, termasuk soal intelijen. Salah satu yang dikenal cukup aktif untuk mengantisipasi persoalan keamanan siber di bidang intelijen adalah Amerika Serikat (AS).

Negeri Paman Sam itu bahkan memiliki sejumlah badan khusus untuk mengurus masalah keamanan siber. Terbaru, ada agensi bentukan Presiden AS ke-44 Barack Obama yang diberi nama Cyber Threat Intelligence Integration Center pada 2015.

Menurut Homeland Security and Counterterrorism Adviser Presiden Barack Obama, Lisa Monaco, agensi ini bertugas untuk mengumpulkan dan menyebarkan data seputar kebocoran siber yang terus terjadi. Nantinya, data tersebut akan diserahkan pada agensi keamanan terkait.

“Untuk saat ini, tak ada entitas pemerintah yang bertanggung jawab untuk menilai sebuah ancaman siber yang lebih terkoordinasi dan mampu berbagi informasi dengan cepat,” ujarnya saat mengumumkan badan anyar tersebut sebagaimana dikutip dari Reuters.

Kendati demikian, tak sedikit pihak yang mempertanyakan keputusan pemerintah Barack Obama kala itu, mengingat sudah ada beberapa badan yang memiliki tugas serupa.

Sekadar informasi, tanggung jawab untuk keamanan siber di Amerika Serikat berada di beberapa badan, seperti National Security Agent, Departement of Homeland Security, FBI, dan Cyber Command tentara AS.

Tak hanya Amerika Serikat, negara tetangga, seperti Singapura sebenarnya juga telah memiliki badan keamanan siber. Negara itu memiliki Cyber Security Agency (CSA) yang dibentuk pada April 2015.

CSA merupakan badan nasional yang bertugas memantau soal strategi, operasi, pendidikan, termasuk pengembangan ekosistem keamanan siber. Badan ini menjadi bagian dari kantor Perdana Menteri dan dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi negara tersebut.

Sementara untuk kebutuhan data intelijen, Singapura memiliki badan tersendiri yang diberi nama Security and Intelligence Division (SID). Badan ini dipimpin oleh seorang direktur dan melapor langsung ke Perdana Menteri. Pratama mengatakan pekerjaan rumah (PR) besar pemerintah saat ini adalah melihat sedalam apa negara bisa mengedukasi masyarakat terkait ancaman keamanan siber.

“Tanpa keterlibatan dan kesadaran masyarakat, sulit menciptakan keamanan siber yang kuat dan paripurna,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Sementara menurut Donny Koesmandarin, Territory Channel Manager Kaspersky Indonesia, menuturkan kesadaran masyarakat sangat penting untuk menjaga keamanan data mereka agar tidak mudah diretas pihak tak bertanggung jawab.

“Antisipasi pertama yang paling signifikan dan paling tepat adalah kita harus mempersiapkan backup. Yang diserang itu kan data, backup menjadi poin kunci yang sampai saat ini menjadi langkah terbaik. Kita bisa antisipasi (hal ini) tapi tidak semua (data) bisa terdeteksi,” ujar Donny.

Yang kedua, antisipasi yang harus dilakukan adalah patching sistem operasi dan aplikasi pihak ketiga dan ekosistem pendukungnya.

“Semua harus di-patch karena banyak yang memanfaatkan celah keamanan dari sistem operasi dan pihak ketiga. Contohnya, banyak malware yang menginfeksi dokumen PDF karena aplikasinya tidak diperbarui,” lanjutnya.

Dan yang paling penting, antisipasi berikutnya adalah mengedukasi ke pengguna awam itu sendiri.

Mirisnya, kebanyakan pengguna awam tidak tahu ciri-ciri komputer yang terkena malware atau ransomware. Jadi, Donny menyarankan sebaiknya pengguna harus mempersiapkan proteksi berupa antivirus yang teknologinya terpercaya.

Dalam poin ini, BSSN diharapkan bisa menjadi perpanjangan tangan untuk mengedukasi terkait antisipasi yang harus dilakukan.

“Ransomware akan secara masif menginfeksi smartphone Android dan iOS. Dari bocoran Wikileaks, malware semacam ini memang sudah dikembangkan oleh CIA sehingga negara sudah sepatutnya waspada,” kata Donny menjelaskan.

Selain itu, ancaman serangan pada individu diperkirakan meningkat tajam. Hal ini menyusul pesatnya perkembangan teknologi, seperti Internet of Things (IoT). Semua perkembangan teknologi wajib diikuti dengan peningkatan keamanan siber di semua aspek.

Sumber: Liputan6.com

Cross Browser Compatible

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut suscipit elit sed diam ultrices hendrerit. Vestibulum feugiat, urna eget ullamcorper tristique, est erat egestas diam, ac imperdiet libero neque sed velit. Curabitur fringilla tortor vitae nisi mattis, dignissim faucibus purus dictum. Sed vel volutpat sapien. Morbi quis tristique dolor. Fusce nec mattis diam. Duis rutrum vitae erat vel fringilla.

Continue reading

Video Post Example

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut suscipit elit sed diam ultrices hendrerit. Vestibulum feugiat, urna eget ullamcorper tristique, est erat egestas diam, ac imperdiet libero neque sed velit. Curabitur fringilla tortor vitae nisi mattis, dignissim faucibus purus dictum. Sed vel volutpat sapien. Morbi quis tristique dolor. Fusce nec mattis diam. Duis rutrum vitae erat vel fringilla.

Continue reading

Gallery Post Example

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut suscipit elit sed diam ultrices hendrerit. Vestibulum feugiat, urna eget ullamcorper tristique, est erat egestas diam, ac imperdiet libero neque sed velit. Curabitur fringilla tortor vitae nisi mattis, dignissim faucibus purus dictum. Sed vel volutpat sapien. Morbi quis tristique dolor. Fusce nec mattis diam. Duis rutrum vitae erat vel fringilla.

Continue reading

Building Websites for All Devices

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut suscipit elit sed diam ultrices hendrerit. Vestibulum feugiat, urna eget ullamcorper tristique, est erat egestas diam, ac imperdiet libero neque sed velit. Curabitur fringilla tortor vitae nisi mattis, dignissim faucibus purus dictum. Sed vel volutpat sapien. Morbi quis tristique dolor. Fusce nec mattis diam. Duis rutrum vitae erat vel fringilla.

Continue reading

Scroll to top