News

Post updates on the status of your app

Rupiah Menguat Tipis di Awal Pekan

Gerak mata uang rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan awal pekan ini terpantau menguat tipis. Namun demikian gerak rupiah perlahan menampakkan pelemahannya.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 26 Maret 2018, rupiah dibuka menguat ke level Rp13.780 per USD dibandingkan sebelumnya yang berada di Rp13.782 per USD.

Tak beberapa lama kemudian gerak rupiah sedikit menguat ke level Rp13.768 per USD. Rupiah terpantau menguat hingga 14 poin atau setara 0,10 persen.

Sementara itu rentang gerak rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini berada di level Rp13.763-Rp13.783 per USD dengan year to date (ytd) return sebesar 1,67 persen.

Sedangkan mencatat data Yahoo Finance, rupiah diperdagangkan menguat ke level Rp13.774 per USD. Rupiah menguat hingga empat poin atau setara 0,03 persen.

Analis Senior PT Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada sebelumnya memprediksikan rupiah masih akan cenderung tertekan sepanjang hari ini. Apalagi masih ada sentimen yang datang dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

“Perang dagang antara AS dan Tiongkok dapat berimbas pada ekonomi Indonesia. Maka rupiah yang melemah hingga perdagangan Jumat, 23 Maret 2018 membuka peluang untuk kembali terjadinya pelemahan,” kata Reza, dalam keterangan risetnya, Senin, 26 Maret 2018.

Namun demikian, Reza berharap pelemahan dapat lebih terbatas untuk menjaga rupiah tidak melemah lebih dalam.

Oleh karena itu, dia mengimbau investor tetap mencermati dan mewaspadai terhadap sentimen yang membuat rupiah tertahan kenaikannya. Nilai rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran support Rp13.802 per USD, sedangkan posisi resisten akan berada di Rp13.769 per USD.

 

Sumber: metrotvnews.com

CT Ungkap Tantangan di Era Ekonomi Serba Teknologi

Pendiri CT Corp Chairul Tanjung mengatakan saat ini Indonesia tak bisa mengelak dari revolusi industri 4.0. Sebab, semakin majunya teknologi, maka akan mengubah cara perusahaan dalam melakukan bisnisnya.

Adapun, revolusi industri 4.0 adalah proses penciptaan nilai tambah barang dan jasa yang berbasiskan pertukaran informasi dan data. Ciri khas era Industri 4.0, antara lain pemanfaatan rekayasa kecerdasan (artificial intelligence), internet of things, big data, sampai robot.

Agar ekonomi Indonesia berdaya saing, maka mau tak mau pelaku usaha saat ini harus menyesuaikan diri dengan revolusi industri 4.0. Bahkan, saat ini dampaknya sudah mulai terasa di Indonesia.

Ia mencontohkan, saat ini penyedia aplikasi teknologi transportasi, seperti Go-Jek dan Uber menggerus pangsa pasar transportasi konvensional. Tak hanya itu, runtuhnya sektor ritel pun juga disinyalir karena timbulnya moda berbelanja secara daring (online).

“Dan dengan berbasiskan data dan informasi, sebetulnya dunia usaha mendapatkan manfaat. Yakni, bisnisnya bisa lebih inklusif, tercipta efisiensi di proses bisnis, dan memudahkan dunia usaha untuk berinovasi,” jelas CT.

Hanya saja, menurutnya, revolusi industri 4,0 menimbulkan mudharat tersendiri. Salah satunya, pengurangan tenaga kerja demi efisiensi biaya oeprasional perusahaan.

Ia mengambil contoh Upah Minimum di Kabupaten Karawang yang kini mencapai Rp4 juta per bulan. Berdasarkan hitungan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015, maka kenaikan upah per tahun dihitung dari inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Mengambil asumsi pertumbuhan ekonomi dan inflasi saat ini, maka bisa-bisa upah minimum menembus Rp15 juta dalam 10 tahun lagi. Sehingga, daripada mempekerjakan karyawan, maka perusahaan akan mengganti sistem produksinya dengan otomatisasi. Ini dianggapnya sudah menjadi konsekuensi logis dari revolusi industry 4.0.

“Nantinya, tidak ada lagi buruh di Karawang, semuanya jadi otomatisasi,” imbuh mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian ini.

Tak hanya masalah ketenagakerjaan, revolusi industri 4.0 juga membuat persaingan bisnis semakin ketat, mengingat pendiriannya cukup mudah. Hanya saja, persaingannya menjadi tidak sehat lantaran satu perusahaan bisa menguasai seluruh pangsa pasar.

Dalam hal ini, ia memberi contoh Amazon yang pada 2016 lalu mengambil pangsa 38 persen dari seluruh total transaksi e-commerce di Amerika Serikat (AS).

Market leader (pemimpin pasar) tidak akan memberi space (ruang) bagi kompetitornya. Misalnya, Amazon yang saat ini nomor satu di AS membuat tidak ada tempat bagi yang lain. Istilahnya the winner takes all,” terang dia.

Di samping dua masalah itu, ada satu hal lagi yang seharusnya menjadi perhatian Indonesia, yakni menjamurnya industri berbasis teknologi informasi luar negeri yang memanfaatkan pasar dalam negeri. “Foreign ownership ini issue, tidak boleh ada yang mengakunya karya anak bangsa, tapi bukan perusahaan Indonesia,” pungkasnya.

 

Sumber: cnnindonesia.com

Renault EZ-GO, Kenalkan Kendaraan Robot Masa Depan

Renault memperkenalkan sebuah kendaraan robot dan mobilitas berbagi, EZ-GO, dalam pameran otomotif Geneva Motor Show 2018 yang kini masih betlangsung hingga 18 Maret.

Konsep tersebut dibuat terintegrasi dengan lingkungan serta mengoptimalkan cara berkendara di kota-kota padat penduduk.

Melalui rilisnya, Kamis (8/3/2018) Renault mengungkapkan, EZ-GO merupakan konsep kendaraan robot yang berbasis listrik, teknologi swakemudi dan mobilitas berbagi, yang dalam waktu bersamaan berfungsi sebagai kendaraan dan layanan untuk “menumpang” baik dari lokasi tetap maupun berpindah-pindah.

Renault meyakini bahwa kunci solusi mobilitas dan smart city di masa mendatang ialah kombinasi terintegrasi antara layanan berkendara yang terkoneksi dengan infrastruktur kota seperti sensor, analisa data, layanan terkoneksi serta sistem multimoda.

EZ-GO sendiri didesain dengan bodi yang dimaksudkan untuk menghadirkan keleluasaan menikmati pemandangan lewat atap kaca panoramik serta mendukung sensor sistem awakemudi.

“Layanan numpang dan mobilitas berbagi menghadirkan kesempatan penting bagi Renault, terutama di kota-kota besar. Banyak kota yang mulai dipadati populasi menua atau terlalu muda dan orang-orang mencari solusi mobilitas baru,” kata CEO Renault Thierry Bollore.

Dimensinya diatur tidak terlalu tinggi sehingga pejalan kaki tidak terganggu pemandangannya ke seberang.

Renault EZ-GO akan dibekali teknologi swakemudi tingkat 4, yang membuatnya secara mandiri dapat menjaga jarak dengan kendaraan lain di depannya, tetap di jalur, serta berpindah jalur ataupun berbelok sendiri ketika di tikungan.

Kendaraan robot tersebut diatur dengan batas kecepatan aman yakni 50 km per jam, sementara pintunya yang terbuka dari muka kendaraan didesain agar memberikan ruang yang luas dan aman ketika naik ataupun turun.

Renault juga menyematkan teknologi kemudi 4 roda, 4CONTROL, kepada EZ-GO untuk meningkatkan kelincahan tanpa mengurangi keselamatan.

Gudang Dokumen Kenegaraan Terancam Longsor

BOGOR–RADAR BOGOR,Cuaca tak bersahabat yang merundung Kota Hujan beberapa pekan terakhir membuat beberapa lokasi terdampak longsor. Salah satunya kediaman Muchlis Rosim (76), pemilik gudang dokumen terkait kenegaraan di RT 01/05 Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Timur.

Meski gudang dan tempat tinggalnya berjauhan di dua titik berbeda, tetapi nasibnya sama; nyaris digerus aliran sungai. Padahal, dalam gudang berisi berbagai film, foto, prangko, dan poster terkait kenegaraan.

Gudang yang nampak kumuh itu bagian belakangnya memang berbatasan langsung dengan Sungai Seseupan. Akibat hujan deras beberapa hari lalu, tembok bagian belakangnya yang hanya berjarak sekitar 2 meter dari sungai sudah mulai belah. Serupa dengan pinggiran sungainya yang juga sudah mulai gembos.

Sehingga, sangat disayangkan jika gudang beserta ribuan barang bersejarah itu hanyut terbawa aliran Sungai Seseupan. “Di dalamnya ada dokumentasi negara proklamator Bung Karno dan Bung Hatta,” jelasnya ketika ditemui Radar Bogor, kemarin (26/2).

Padahal, menurut Muchlis, pada Agustus 2016 lalu, Wali Kota Bogor Bima Arya sempat memberikan bantuan berupa upaya pembangunan berupa tembok penahan tanah (TPT). Namun, belum tampak pembangunannya, proyek sebesar Rp83 juta itu sudah ditinggalkan pelaksananya.

“Waktu itu saya minta ke wali kota, kalau tidak diperbaiki bisa ambruk. Tapi tidak diselesaikan oleh pengembangnya. Ditinggal sekitar 6 bulan lalu,” jelasnya.
Pria yang mengaku sebagai cucu sepupu proklamator Bung Hatta itu, kini hidup dengan ketidaknyamanan.

Sebab, teras tempat kontrakan yang ia tempati sudah runtuh digerus aliran sungai yang sama. Teras enam kontrakan itu runtuh empat hari lalu sehingga membuat pengontrak lainnya pergi.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Ibrahim Abdullah mengaku sudah melaporkan kejadian longsor itu pada pihak kelurahan. Namun, hingga kini belum ada upaya penanggulangan longsoran di sepanjang teras enam kontrakan dan di belakang gudang milik Muchlis. “Kata kelurahan sih sudah dilaporkan ke dinas terkait,” ujar Ibrahim.

Ibrahim berharap Pemkot Bogor segera menyelesaikan beberapa persoalan infrastruktur yang menimpa warganya. “Harus sesegera mungkin ditangani, jangan sampai ada korban,” harapnya.

Kini, hanya Muchlis yang berani bertahan tinggal di kontrakan yang terasnya dalam kondisi miring menggantung. Di tempat petakan itu Muchlis tinggal seorang diri. Tanpa ada keluarga yang mendampingi. Anak-anaknya kini tinggal di luar kota sehingga tidak bisa hidup satu atap dengannya.

Ketika dikofirmasi, Lurah Sindangsari, Yus Muslih, mengaku sudah mengajukan perbaikan longsoran untuk masuk dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Bogor Timur. Namun, ia belum bisa memastikan kapan realisasi perbaikannya. “Kalau tidak terealisasi tahun sekarang, kita ajukan lagi untuk tahun selanjutnya,” katanya.

Namun, menurutnya, proyek pembangunan TPT di belakang gudang milik Muchlis memang tidak ada. Dengan tegas ia membantah bahwa dari tahun ke tahun tidak ada proyek tersebut.

“Tidak ada, yang untuk gudang Pak Muchlis? Dari dulu juga memang tidak ada proyeknya,” tandasnya.(fik/c)

 

SUMBER : www.radarbogor.id

Henley Passport Index, Singapura dan Jepang Peringkat Pertama, Indonesia ke-69

Henley & Partners, lembaga pemeringkat internasional di bidang travel, kembali mengeluarkan Henley Passport Index pada Rabu (28/02/2018).

Melalui keterangan resmi yang diterima pada Juma’at (2/3/2018), tertera bahwa Singapura dan Jepang menjadi negara dengan peringkat pertama dalam Henley Passport Index 2018. Peringkat ini diraih untuk cakupan global maupun regional di Asia Tenggara untuk Singapura.
Henley Passport Index menampilkan negara-negara mana saja yang memiliki akses paspor paling luas dan perkembangan tiap negara dalam hal mendapatkan akses bebas visa ke negara lain di seluruh dunia.
“Pemilik paspor Singapura punya akses bebas visa ke 180 negara, begitupun dengan paspor Jepang,” kata Managing Partner of Henley & Partners Singapore and Head of Southeast Asia, Dominic Volek. Kekuatan paspor Singapura bahkan telah menyalip paspor Jerman yang hanya punya akses bebas visa ke 179 negara.
Jerman kini menduduki peringkat kedua secara global dalam Henley Passport Index 2018, disusul dengan paspor Perancis, Italia, Spanyol, Denmark, Finlandia, Swedia, dan Korea Selatan di peringkat ketiga. Untuk kawasan Asia Tenggara, paspor Malaysia menduduki peringkat kedua setelah Singapura, dengan raihan akses bebas visa ke 169 negara. Paspor Malaysia secara global menempati peringkat ke-11.
Paspor Indonesia dalam Henley Passport Index menjadi paspor dengan kenaikan peringkat yang signifikan, di mana sebelumnya Indonesia peringkat ke-72 kemudian bisa naik tiga peringkat dalam waktu satu bulan lebih

Kemudian di peringkat ketiga ada paspor Brunei Darussalam, disusul oleh Timor Leste di peringkat keempat, Thailand di peringkat kelima, Indonesia peringkat keenam, Filipina peringkat ketujuh, Kamboja dan Vietnam di peringkat kedelapan, Laos di peringkat kesembilan, serta Myanmar di peringkat kesepuluh

Sumber:  kompas.com

Merasa Jenuh dengan Pekerjaan di Kantor? Lakukan 6 Hal Ini

Merasa jenuh menghadapi rutinitas pekerjaan di kantor menjadi sesuatu hal yang sangat wajar dirasakan oleh setiap karyawan. Hanya saja, jika rasa jenuh tersebut berlarut-larut dan dibiarkan begitu saja, akan berdampak besar terhadap penurunan produktivitas kerja. Lalu hal apa yang bisa dilakukan agar tetap semangat menyelesaikan pekerjaan di kantor?

Dilansir dari TheEveryGirl, ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat Anda sudah mulai merasa jenuh dan bahkan mulai membenci pekerjaan yang saat ini sedang ditekuni. Caranya?

Cari Rekan Kerja yang Menyenangkan

Saat menghadapi situasi yang membosankan dengan pekerjaan, bukan berarti tidak menyukai rekan satu profesi dengan Anda. Cobalah untuk bersantai sejenak dengan makan siang bersama rekan kerja yang dapat menghibur dan menyenangkan. Hal ini setidaknya akan membuat rasa jenuh Anda sedikit berkurang.

Meminta Proyek Baru

Salah satu alasan seseorang mulai membenci sebuah pekerjaan adalah ketika mereka sudah merasa bosan terhadap pekerjaan tersebut. Tidak ada salahnya bagi Anda untuk menemui atasan dan meminta proyek baru untuk memperluas pengalaman dan keahlian Anda.

Pekerjaan Sambilan

Jika Anda terjebak pada sebuah pekerjaan yang membosankan, Anda bisa mencari pekerjaan sambilan di luar pekerjaan yang tengah dijalani. Carilah pekerjaan yang sesuai dengan hobi sehingga membuat Anda lebih bersemangat.

Daftar Baru

Saat mulai merasa bosan dan tidak memiliki pilihan lain untuk berpindah pekerjaan, cobalah untuk menuliskan beberapa tujuan yang ingin Anda capai dalam beberapa waktu yang akan datang. Hal ini berfungsi sebagai motivasi agar Anda terus bertahan dengan pekerjaan tersebut.

Selalu Bersikap Positif

Mungkin akan terdengar sedikit klise, namun cobalah untuk selalu berpikiran positif dan terbuka. Karena jika Anda terus-terusan menggerutu tentang pekerjaan tersebut tidak akan memberikan solusi atau bantuan.

 Kerja Keras

Bagi Anda yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang saat ini ditekuni, tetaplah berusaha untuk profesional karena reputasi Anda sangat berpengaruh terhadap pekerjaan di masa yang akan datang.

Sumber : Liputan6SCTV

Kebijakan Amerika Serikat Mengakibatkan Rupiah Semakin Tertekan

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari kebijakan moneter AS, yaitu The Federal Reserve yang disebut-sebut akan mengerek suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR).

Bank Indonesia (BI) menyebut nilai tukar (kurs) rupiah tertekan sejak awal bulan ini karena berbagai kebijakan fiskal dan moneter Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan di tengah hari ini saja, Rabu (21/2), rupiah berada pada posisi Rp13.605 per dolar AS atau meningkat dibandingkan pembukaan Rp13.560 per dolar AS.

Tak cuma itu, kebijakan fiskal AS, seperti pemangkasan pajak korporasi dan individu yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump juga menjadi daya tarik masuknya uang ke Negeri Paman Sam tersebut.

“Dugaan lain, pertumbuhan ekonomi Amerika lebih baik dari yang diperkirakan sebelumnya, yaitu dari 2,3 persen menjadi 2,6 persen. Jadi, kenaikan ini juga membuat daya tarik bagi ekonomi Amerika,” ujarnya usai memberi kuliah umum di Perbanas Institute, Rabu (21/2).

Kendati demikian, ia menilai, pergerakan kurs rupiah belum terlalu terpuruk. Catatan BI, rupiah berada di posisi Rp13.548 per dolar AS pada akhir Desember 2017. Lalu, sempat menyentuh Rp13.413 per dolar AS pada akhir bulan lalu.

“Sepanjang tahun 2017, rupiah hanya melemah 0,71 persen. Bahkan, di bulan Januari terjadi penguatan rupiah sampai di atas satu persen apresiasi. Meski memang, sejak Februari ada tekanan,” katanya.
Namun demikian, ia meyakini, kondisi makro ekonomi dan sistem keuangan Indonesia yang cukup stabil akan menjaga pergerakan kurs rupiah pada rentang yang baik. Pun demikian, ia mengaku tak punya target khusus bagi kurs rupiah.

Salah satu cerminan ekonomi yang cukup stabil, terlihat pada laju inflasi sebesar 3,25 persen secara tahunan pada Januari 2018. Angka ini masih di rentang target sebesar 3,5 persen plus minus satu persen untuk tahun ini.

“Saya lihat Indonesia itu makro ekonominya terjaga. Kalau indikator ekonomi terjaga, kami yakin dampaknya bisa diatasi oleh Indonesia,” pungkasnya.

Sumber : cnnindonesia.com

Meneropong Awan Mendung Industri Ritel

Awan mendung masih menyelimuti sektor ritel di Indonesia pada awal tahun ini. Beberapa gerai ritel produk busana dan alas kaki impor memutuskan untuk menutup gerainya di pusat perbelanjaan domestik, diantaranya Clarks, Dorothy Perkins, dan New Look.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk pakaian jadi memang terus melambat hingga rata rata tumbuh 3,05 persen sepanjang tahun 2017. Angka ini terbilang rendah jika dibandingkan pengeluaran konsumsi secara total yang masih bisa tumbuh 4,95 persen. Hal itu didahului dengan penjualan diskon besar-besaran untuk menghabiskan stok sebelum pemilik menutup gerainya.

Pengamat Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira tak heran pemilik lisensi impor memutuskan untuk tak lagi membuka gerai produk tersebut di Indonesia. Hal itu tak lepas dari belum pulihnya permintaan di dalam negeri.

“Artinya, masyarakat secara umum mengurangi belanja fashion,” ujar Bhima saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (8/2) kemarin.

Menurut Bhima, turunnya porsi belanja masyarakat disebabkan oleh kelas menengah atas yang lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank, terlihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh diatas kredit bank. Tak hanya itu, menurut Bhima, kelas menengah atas mengerem belanja di sektor pakaian juga disebabkan oleh petugas pajak yang bisa mengintip transaksi kartu kredit penggunanya.

Dan pada Desember 2017, Bank Indonesia (BI) mencatat penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 8,3 persen secara tahunan. Sementara, kredit perbankan periode yang sama tumbuh 8,2 persen.

“Kalau di 2017 diperkirakan total transaksi e-commerce sebesar Rp87,7 triliun maka nilai penjualan pakaian jadi adalah Rp40,1 triliun per tahunnya,” jelasnya.

Selain itu, tren peralihan sistem penjualan dari secara langsung (offline) ke eletronik (e-commerce) juga perlu dicermati. Terlebih sekitar 45,8 persen penjualan barang yang dibeli melalui platform e-commece merupakan penjualan produk pakaian, meskipun nilai transaksinya ditaksir hanya berkisar satu persen dari total penjualan ritel nasional.

“Kemunculan merek-merek personal contohnya untuk busana muslim sebenarnya peluang bagus. Asalkan konsepnya pakai e-commerce bukan untuk fisik,” ujarnya.

Di sisi lain, ditutupnya gerai pakaian impor di pusat perbelanjaan bisa menjadi kesempatan bagi produk lokal untuk merebut pangsa pasar. Pasalnya, munculnya merek-merek personal baru yang ramai di media sosial juga berperan dalam menggerus pasar pakaian impor.

 

Pemerintah, lanjut Bhima, juga perlu menyiapkan alih profesi bagi pekerja yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selain itu, bagi perusahaan ritel yang tutup, Pemerintah perlu membantu pengurusan sengketa kerja agar pesangon bisa cepat dibayar oleh perusahaan. Untuk menahan tren perlambatan sektor ritel, lanjut Bhima, Pemerintah perlu memulihkan kepercayaan konsumen dengan mengkaji ulang seluruh kebijakan perpajakan.

Kemudian, pemerintah juga perlu mendorong kolaborasi sektor offline dan online. Misalnya, masuknya platform ritel offline dari Amazon dengan Amazon Go pada tahun lalu menjadi bukti bahwa kerja sama akan menguntungkan pelaku ritel konvensional juga.

“Jangan karena mengejar target pajak yang naik 20 persen lalu sektor ritel jadi korban,” ujarnya.

“Tahun lalu, pengeluaran konsumsi untuk restoran dan hotel pertumbuhannya naik hingga 5,3 persen,” Imnya.

Sementara, pusat perbelanjaan harus merenovasi konsep secara total terutama bagi pusat perbelanjaan yang lama. Bagi pusat perbelanjaan yang sebelumnya fokus di ritel fashion jika ingin bertahan perlu beradaptasi dengan mengubah diri menjadi tempat kuliner.

 

Pengusaha berani  ambil risiko:

Tahun lalu, menurut Tutum, industri ritel memang masih relatif stagnan karena belum pulihnya permintaan masyarakat. Sementara, pembayaran sewa gerai di pusat perbelanjaan harus dibayar tak peduli laku atau tidaknya barang yang dijual.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengingatkan keputusan penutupan gerai bukan merupakan keputusan yang mendadak. Biasanya, keputusan untuk ekspansi maupun menutup gerai telah dipikirkan enam bulan sebelumnya setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi perekonomian selama beberapa periode. Tak ayal, pemilik akan mencari cara untuk menekan biaya, salah satunya dengan keluar dari pusat perbelanjaan.

“Penutupan gerai merupakan upaya pemilik untuk efisiensi biaya,” ujarnya.

Setelah menutup gerai, pemilik bisa mengalihkan penjualan dengan sistem menitipkan di toko ritel besar atau menjualnya secara daring. Dengan demikian, produk masih bisa beredar di pasar.

 

Menurut Tutum, tren penutupan gerai masih bisa berlanjut hingga akhir tahun kecuali ada angin segar berhembus kencang di perekonomian. Gelaran pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak tahun ini bagi Tutum hanya sebagai pemanis dan belum cukup kuat untuk mengembalikan kejayaan sektor ritel.

Aprindo sendiri berharap sektor ritel bisa tumbuh setidaknya 9 persen tahun ini, membaik dari tahun lalu yang hanya tumbuh di kisaran 7,5 persen. Hal itu seperti diungkap Ketua Umum Aprindo Roy Mandey dalam wawancara terpisah beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APPBI) Indonesia Stefanus Ridwan menilai penutupan suatu gerai di pusat perbelanjaan merupakan hal yang biasa.

Menurut Stefanus, jika gerai ingin bertahan di tengah ketatnya persaingan, produk yang dijual harus menarik, bergengsi, dan lekat di hati konsumen. Dengan demikian, konsumen tidak merasa sayang mengeluarkan uangnya.

“Kalau tidak bisa membuat produknya menjadi hits. ya akan ketinggalan,” jelasnya.

“Kalau gerai tidak laku percuma kami pertahankan, mendingan kami mencari gerai yang bisa menarik orang untuk datang,” sambungnya.

Stefanus tidak terlalu khawatir penutupan beberapa gerai produk ritel fashion impor akan menekan penerimaan pusat perbelanjaan. Pasalnya, jika satu gerai produk ditutup, permintaan dari produk ritel lain untuk mengisi gerai yang ditutup tersebut masih ada. Misalnya gerai untuk produk-produk yang laris dijual melalui platform media sosial.

 

Selain itu, seperti yang disebutkan Bhima di atas, pengelola pusat perbelanjaan juga telah menangkap tren peralihan pola konsumsi masyarakat. Karenanya, pusat perbelanjaan kini banyak yang berbenah dengan memperbanyak gerai di sektor kuliner dan hiburan, serta mengadakan acara-acara yang bisa menarik pengunjung. Pemerintah terus mencermati perkembangan sektor ritel, terutama dampaknya ke pasar tenaga kerja.

 

 

Pertumbuhan KPR Menanjak, Kredit Real Estate Anjlok

Pertumbuhan KPR tersebut lebih tinggi dibanding 2016 lalu yang hanya tercatat sebesar 8,1 persen (yoy /year on year). Bank Indonesia (BI) mencatat, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen (KPR dan KPA) mencapai Rp410 triliun pada sepanjang tahun lalu. Penyaluran tersebut 11,4 persen dibanding tahun sebelumnya (yoy).

Perlambatan kredit properti terutama terjadi pada kredit real estate dan konstruksi. Tahun lalu, kredit real estate hanya tumbuh 6,4 persen (yoy) menjadi Rp139 triliun, melambat signifikan dibanding 2016 yang mencapai 22,2 persen (yoy). Sementara itu, kredit konstruksi tumbuh 20 persen (yoy) menjadi Rp257,2 triliun, melambat dibanding tahun sebelumnya sebesar 24,2 persen (yoy). Berdasarkan data uang beredar BI, penyaluran kredit properti secara keseluruhan tumbuh melambat dari 15 persen (yoy) pada 2016 menjadi 13 persen (yoy) di tahun lalu. Adapun hingga tahun lalu, penyaluran kredit properti mencapai Rp806,5 triliun.

Kenaikan pertumbuhan kredit terutama terjadi pada kredit modal kerja dari 7,3 persen (yoy) menjadi 8,3 persen (yoy) dengan total penyaluran Rp2.212,7 triliun. Pertumbuhan kredit investasi naik dari 4,6 persen (yoy) menjadi 4,8 persen (yoy) dengan penyaluran kredit sebesar Rp1.168,9 triliun. Pada tahun lalu, BI juga mencatat penyaluran kredit secara keseluruhan tumbuh 8,2 persen (yoy), meningkat dibanding 2016 yang tumbuh 7,6 persen (yoy). Adapun total penyaluran kedit di akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp4.763 triliun. Sementara itu, pertumbuhan kredit konsumsi naik dari 10,2 persen (yoy) menjadi 10,9 persen (yoy), dengan total penyaluran mencapai Rp1.386 triliun.

 

Sumber: cnnindonesia.com

Kadin Sebut Pengusaha Siap Garap Listrik Energi Terbarukan

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menilai pelaku usaha masih berminat untuk mengerjakan proyek listrik energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia. Bahkan, pelaku usaha disebut bersedia masuk meskipun hanya mendapatkan untung tipis. Subagai Kadin Bidang Energi Baru Terbarukan dan Lingkungan Kadin Arya Witoelar, Ia mengungkapkan, pada dasarnya proyek pembangkit listrik energi baru terbarukan membutuhkan kejelasan siapa yang akan membeli produksi listrik yang dihasilkan. Dengan demikian, investasi perusahaan bisa dikembalikan dan lembaga keuangan atau perbankan juga bersedia membantu pembiayaan.

Namun, jika pembangkit listrik di luar jaringan PLN (off-grid), maka perlu ada model bisnis yang memberikan kejelasan siapa yang akan membeli produksi listrik yang dihasilkan. Misalnya, jika masyarakat yang akan membeli maka perlu ada upaya mitigasi risiko pembayaran tidak berlanjut. Padahal, penduduk daerah terpencil biasanya memiliki penghasilan terbatas karena keterbatasan aktivitas ekonomi. Akibatnya, proyek EBT menjadi terbengkalai.

Sementara, jika PT PLN (Persero) serius membeli produksi listrik energi baru terbarukan, maka Arya menilai pelaku usaha mendapatkan jaminan listrik akan terjual. Namun, Arya masih mempertanyakan keseriusan PLN untuk masuk ke sektor EBT. Namun di sisi lain, pemerintah melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN) berkomitmen untuk memaksimalkan penggunaan dalam rangka mencapai targetnya di dalam bauran energi mencapai 23 persen pada tahun 2025.

Arya pun menambahkan, “Misalkan, sejumlah uang jika diinvestasikan di tempat lain mendapatkan keuntungan normal tetapi jika diinvestasikan di proyek energi baru terbarukan di Pulau Sumba untungnya sedikit sekali atau hampir nggak ada untung. Selama tidak rugi, ada saja pelaku usaha yang berinvestasi ke sana,” ujar Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Energi Baru Terbarukan dan Lingkungan Kadin Arya Witoelar di Jakarta, Rabu (24/11).

Dan berdasarkan data tahun 2015 yang ada, lebih dari 2.500 desa terpencil masih memerlukan akses listrik yang belum bisa dipenuhi oleh PLN. Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informatika, Bappenas, Rachmat Mardiana mengungkapkan untuk mencapai itu pemerintah masih memerlukan keterlibatan swasta untuk masuk ke proyek kelistrikan di daerah terpencil.

Pemerintah pusat sendiri telah mengalokasikan sejumlah dana untuk mendukung pemanfaatan EBT baik melalui Dana Alokasi Khusus, alokasi anggaran Kementerian ESDM, hingga Dana Desa. Rachmat Mardiana juga mengungkapkan, “Itu yang menjadi PR dari pemerintah bagaimana itu dilistriki sehingga mekanisme pendanaan pelaksanaan mungkin PPP [Public Private Partnership] juga dimungkinkan untuk memfasilitasi penerangan desa yang belum dilistriki tadi,” begitu ujarnya.

Program ini merupakan kombinasi dua program utama Hivos di bidang energi terbarukan yaitu Program Biogas Rumah (Biru) dan Program Sumba Iconic Island. Namu sayangnya, keberlanjutan operasional pembangkit listrik energi baru terbarukan masih menjadi kendala akibat terbatasnya sumber daya manusia dan keuangan. Untuk itu, perlu ada suatu lembaga yang menjamin keberlanjutan proyek EBT di desa, bisa berupa koperasi maupun badan usaha milik desa yang bisa melibatkan peran swasta.

Organisasi pembangunan internasional, Hivos, dibantu oleh pendanaan hibah dari program Millenium Challenge Account- Indonesia (MCA-I) dan berbagai mitra telah mengimplementasikan Program Terang, proyek yang bertujuan mendukung peningkatan akses EBT di daerah terpencil. Sedangkan dalam program Sumba Iconic Island, Hivos membantu menciptakan ekosistem pemanfaatn EBT secara berkelanjutan sehingga dapat mendukung pengembangan dan aktivitas ekonomi penduduk Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur. berhasil menyediakan akses listrik bagi 26 kabupaten di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan

Program Biru juga merupakan program pengembangan sektor biogas berbasis semi pasar yang dilakukan sejak 2009. Melalui program ini pengembangan sektor biogas dapat berkelanjutan dan mandiri. Program Coordinator Hivos Robert de Groot mengungkapkan, pada akhir 2017, program Terang sudah. Melalui proyek ini, sebanyak 25 sekolah memiliki sumber listrik dari energi terbarukan, 60,68 KW tenaga listrik dihasilkan dari PV Solar, dan rasio elektrifikasi di Pulau Ikonik Sumba di NTT meningkat dari 24,5 persen pada tahun 2010 menjadi 42,67 persen di 2017.

Pendapatan yang diperoleh masyarakat sebagian kecilnya bisa disisihkan untuk membayar operasional pembangkit listrik. Jika ekosistem telah terbangun, keberlanjutan sektor EBT di daerah terpencil bisa lebih terjamin. Kondisi ini dengan sendirinya bisa mengundang investor swasta untuk masuk dan lebih banyak terlibat di dalamnya.

Selain itu, pendekatan kepada masyarakat juga mengusung semangat perbaikan taraf hidup dan perekonomian masyarakat. Misalnya, dengan listrik, masyarakat Sumba bisa memanfaatkan lentera untuk kegiatan ekonomi produktif di malam hari seperti mengupas kemiri, menenun, menganyam, pengemasan hasil kebun, bengkel, pembuatan kue, dan menjahit. Untuk menjaga keberlangsungannya, sejak masa perencanaan instalasi proyek, pihaknya telah mengajak keterlibatan masyarakat. Dengan demikian masyarakat merasa memiliki pembangkit listrik EBT yang ada di wilayahnya.

Scroll to top